KPK Periksa Penyuap Gubernur Bengkulu

KPK Periksa Penyuap Gubernur Bengkulu – Komisi Pemberantasan Korupsi mengecek Direktur PT Statika Partner Fasilitas (PT SMS) Jhoni Wijaya, jadi tersangka, Rabu (16/8/2017).

Jhoni telah diputuskan jadi tersangka pada masalah suap pada Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti.

” JHW di check jadi tersangka, ” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, waktu di konfirmasi, Rabu (16/8/2017).

Tidak cuma Jhoni, Gubernur Bengkulu serta Istrinya Lily Martiani Maddari juga tampak mendatangi gedung KPK. Sampai sekarang ini, belum juga di ketahui apakah kehadiran keduanya berkaitan masalah itu. Sebab, nama keduanya tak ada dalam jadwal kontrol hari ini.

Ridwan yang tiba sekitaran jam 09. 30 WIB serta keluar dari KPK jam 10. 42 WIB itu cuma berujar singkat. ” Maaf ya, maaf ya, perpanjangan, ” tutur Ridwan.

Belum juga di ketahui apa maksud perpanjangan yang dijelaskan Ridwan yaitu berkaitan perpanjangan penahanan dianya.

Ridwan yang kenakan pakaian putih dibalut rompi oranye serta peci hitam itu lalu masuk kedalam mobil tahanan. Disamping itu, Jhoni serta Lily yang keluar dari KPK sebagian waktu lalu pilih bungkam.

Pada masalah suap Gubernur Bengkulu, Jhoni disangka memberi uang suap lewat Bendahara DPD Golkar Propinsi Bengkulu Rico Dian Sari. Rico lalu mengantarkan uang itu ke tempat tinggal Ridwan.

Sesudah keluar, KPK menangkap Rico serta kembali pada tempat tinggal Ridwan. Didalam tempat tinggal tim KPK berjumpa dengan istri gubernur, Lily Martiani Maddari. KPK mengira Lily adalah penghubung suap pada masalah ini.

Dirumah itu lalu diamankan uang Rp 1 miliar dalam pecahan Rp 100. 000 yang pernah disimpan dalam brankas.

KPK menyebutkan pemberian uang Rp 1 miliar pada Ridwan disangka adalah suap berkaitan fee project dua pembangunan jalan yang di menangkan PT Statika Partner Fasilitas.

PT SMS memenangi project pembangunan atau penambahan jalan TES-Muara Aman Kabupaten Rejang Lebong dengan nilai project Rp 37 miliar serta project pembangunan atau penambahan jalan Curug Air Dingin Kabupaten Rejang Lebong dengan nilai project Rp 16 miliar.

Ridwan dimaksud memperoleh fee 10 % per-proyek lewat istrinya. Uang Rp 1 miliar dikatakan sebagai sisi dari keseluruhan commitment fee Rp 4, 7 miliar untuk Ridwan.